IHSG Meroket 110,49 poin, Pengaruh Sentimen Global

IHSG Meroket 110,49 poin, Pengaruh Sentimen Global

Nafan Aji mencermati kenaikan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). ) - Ilustrasi AI (INDOLINE)

Jakarta, InvestorDailyOnline.com (INDOLINE) - Indeks harga saham gabungan (IHSG) meroket 110,49 poin atau 2,25 persen ke level 5.030,2 pada perdagangan Kamis (5/11/2026). Angka kenaikan tersebut bisa jadi karena kondisi global.

Analis Pasar Modal Nafan Aji, mengatakan sentimen global masih memiliki pengaruh signifikan terhadap pergerakan pasar saham domestik (IHSG), terutama melalui transmisi arus modal asing, nilai tukar rupiah, dan perubahan persepsi risiko investor.

Beberapa faktor yang perlu dicermati terkait IHSG, antara lain arah kebijakan suku bunga The Fed, pergerakan indeks dolar AS, dinamika geopolitik, serta volatilitas harga komoditas global.

Ketika ketidakpastian global meningkat, investor cenderung melakukan risk-off dengan mengalihkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman. Kondisi tersebut berpotensi memicu capital outflow dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, sehingga memberikan tekanan terhadap IHSG dan rupiah.

Prodia

Namun, pengaruh sentimen global juga perlu dilihat bersama fundamental domestik. Pertumbuhan ekonomi, stabilitas makroekonomi, kinerja emiten, serta kredibilitas kebijakan pemerintah dan otoritas pasar keuangan akan menjadi faktor penentu ketahanan pasar saham Indonesia.

Dinamika politik domestik juga dapat memberikan pengaruh signifikan, terutama apabila memunculkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan ekonomi, stabilitas pemerintahan, serta keberlanjutan program strategis nasional. Pasar modal sangat sensitif terhadap kepastian regulasi

dan konsistensi kebijakan karena keduanya memengaruhi ekspektasi investor terhadap prospek bisnis dan investasi.

Apabila dinamika politik hanya bersifat sementara dan tidak mengganggu stabilitas pemerintahan maupun implementasi kebijakan ekonomi, dampaknya terhadap pasar saham biasanya cenderung terbatas. Namun, apabila berkembang menjadi risiko politik yang lebih serius, investor berpotensi meningkatkan premi risiko (risk premium) terhadap aset domestik, sehingga memicu volatilitas IHSG dan pelemahan rupiah.

“Investor perlu membedakan antara political noise dan political risk. Hingar-bingar politik belum tentu berdampak fundamental terhadap pasar, tetapi apabila sudah memengaruhi kepercayaan investor, kepastian regulasi, dan iklim investasi, dampaknya bisa menjadi lebih substansial,” kata Nafan.

Secara keseluruhan, kombinasi sentimen global dan dinamika politik domestik akan menjadi faktor penting dalam menentukan volatilitas IHSG ke depan. Investor sebaiknya tetap mengedepankan pendekatan selektif dengan memperhatikan fundamental emiten, valuasi, likuiditas, serta manajemen risiko investasi. (*)