Saham Nikel Roboh, Skenario Terburuk Penurunan IHSG
Jakarta, InvestorDailyOnline.com (INDOLINE) - Awan gelap kembali menyelimuti pasar saham, Selasa (3/11/2026), seiring banyaknya sentimen negatif, baik dari dalam maupun luar negeri. Indeks harga saham gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) akhirnya merosot 3,78% ke level 4.904.29.
Phintraco Sekuritas menilai, level 4.900 adalah support kuat IHSG saat ini. Apabila level itu jebol, dalam skenario terburuk, IHSG bisa tersungkur ke level 4.600.
Sekuritas itu mencatat, mayoritas indeks di bursa Asia bergerak di teritori negatif yang terutama didorong oleh koreksi pada saham semikonduktor karena kekhawatiran melambatnya pertumbuhan permintaan yang didorong oleh AI.
Sentimen negatif juga berasal dari kenaikan harga minyak Brent hingga lebih dari 2% ke level US$107 per barel, setelah diberitakan adanya serangan Amerika Serikat (AS) terhadap Pulai Qeshm di Iran. Rupiah juga masih melemah, Selasa dengan penurunan 0,02% ke level Rp18.160 per dolar AS.
Tekanan ke pasar saham bertambah hebat setelah ada niatan aturan produksi nikel lewat RKAB. Ini membuat saham nikel roboh berjamaah.
Saham ANTM merosot 6,9%, MDKA 6,3%, MBMA ARB setelah turun 6,3%, dan INCO 6,3%. Alhasil, indeks basic material BEI turun 6%, menyeret indeks turun lebih dalam lagi.
Pada bagian lain, harga emas melemah 1% lebih ke level US$3.901 per troy oz di pasar spot, dipicu menguatnya harga minyak yang menimbulkan kekhawatiran akan inflasi.
Secara teknikal, IHSG berpotensi akan uji level 4.650-4.750 jika support di 4,900 tidak mampu menahan penurunan lebih lanjut. (ALV)
