Pasar Modal Sejatinya Sangat Rasional

MSCI BUKAN ANCAMAN, TAPI PANDUAN OBJEKTIF
Pasar Modal Sejatinya Sangat Rasional

Jakarta, INDOLINE – Mantan Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) periode 2015-2018, Tito Sulistio menegaskan,  tantangan terbesar pasar modal Indonesia saat ini bukanlah berita buruk ataupun ancaman dari lembaga asing seperti MSCI, melainkan adanya "ketidakpastian radikal" yang dipicu oleh pernyataan simpang siur para pemangku kebijakan.

Menurut Tito, pasar modal sejatinya sangat rasional, namun akan bereaksi negatif jika kehilangan arah akibat komunikasi pemerintah yang tidak konsisten.

"Pasar modal tidak takut pada berita buruk, tapi sangat rentan terhadap ketidakpastian radikal. Ketika regulator, mantan menteri, atau pejabat pemerintah mengeluarkan pernyataan yang kontradiktif, hal itu menciptakan volatilitas dan keraguan bagi investor," ujar Tito dalam sebuah wawancara diskusi baru-baru ini.

Untuk mengembalikan kepercayaan dan stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), Tito memaparkan sejumlah rekomendasi dan pandangan strategis.

MSCI Bukan Ancaman, Tapi Panduan Objektif

Tito meluruskan pandangan keliru yang kerap menganggap MSCI (Morgan Stanley Capital International) sebagai ancaman. Ia mengibaratkan MSCI layaknya layanan pemeringkat seperti Michelin atau TripAdvisor yang menilai pasar berdasarkan data keuangan publik yang transparan.

Oleh karena itu, tujuan Indonesia bukanlah untuk "melawan" MSCI, melainkan menyesuaikan diri dengan standar global guna menarik aliran dana dari investor institusi pasif yang menggunakan panduan pemeringkatan tersebut.

Pentingnya Transparansi dan Aturan Main Universal

Tito mengapresiasi langkah langsung pemerintah, seperti komunikasi antara Presiden dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Namun, ia mengingatkan agar tidak ada langkah atau akuisisi yang terkesan dilakukan secara diam-diam. Segala tindakan pemerintah harus tunduk pada aturan universal pasar modal untuk menghindari munculnya ketakutan investor terkait isu nasionalisasi.

Jangkar Investor Domestik Lewat Dana Pensiun

Agar IHSG lebih mandiri dan tidak mudah goyah oleh sentimen global, Indonesia harus memperkuat basis investor institusi domestik. Tito merujuk pada kesuksesan pasar modal Jepang yang memiliki daya tahan kuat berkat besarnya porsi dana pensiun dan sektor asuransi sebagai jangkar utama bursa saham mereka.

Kewajiban IPO bagi Perusahaan SDA

Di sisi pasokan pasar, Tito merekomendasikan perlunya peningkatan jumlah perusahaan besar berkualitas yang melantai di bursa. Secara spesifik, ia mendorong adanya aturan yang mewajibkan perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi sumber daya alam (SDA) Indonesia, serta perusahaan dengan eksposur utang bank yang besar, untuk melakukan Penawaran Umum Perdana (IPO).

Langkah ini dinilai akan meningkatkan kapitalisasi pasar sekaligus memaksa transparansi tata kelola perusahaan.

Pada akhirnya, pendiri koran ekonomi Investor Daily ini  meyakini bahwa di tengah pelemahan pasar sekarang, masih terdapat "harta karun" berupa emiten-emiten dengan fundamental kuat dan berorientasi ekspor yang saat ini valuasinya masih sangat murah (undervalued).

Namun, untuk mengoptimalkan potensi tersebut, pemerintah mutlak harus memberikan sinyal kebijakan yang konsisten, jelas, dan terpadu.

Sementara itu, Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik dalam pernyataannya di NTB, Sabtu (31/10/2026) memprediksi peluang Indonesia untuk mempertahankan status Emerging Market (pasar negara berkembang) dalam indeks MSCI bisa mencapai angka yang lebih tinggi dari perkiraan investor senior asal Amerika Serikat, Chapman Taylor.

Berbagai pembenahan yang dilakukan pemerintah dan regulator di pasar modal Indonesia saat ini diharapkan mendapat apresiasi dari investor global.

Chapman Taylor merupakan investor senior dengan pengalaman lebih dari 30 tahun di industri investasi global, khususnya pasar negara berkembang Asia. Dia memperkirakan, peluang Indonesia mempertahankan status Emerging Market dalam indeks MSCI berada di atas 50%. Optimisme tersebut meningkat dibandingkan penilaiannya pada Juli 2026.

Chapman yang pernah menjabat sebagai Portfolio Manager dan Research Director di Capital Group ini menilai,  peluang tersebut didukung oleh semakin solidnya koordinasi pemerintah dan regulator, komunikasi yang kembali aktif dengan MSCI, serta keseriusan dalam menindak praktik manipulasi pasar.

Menurutnya, reformasi yang dilakukan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sudah berada di jalur yang tepat. Pembentukan komite High Shareholding Concentration (HSC), penguatan sistem pengawasan Nasdaq, dan peningkatan pengawasan pasar menjadi sejumlah faktor positif bagi Indonesia.  

Chapman yang merupakan anggota Dewan Penasihat Danantara dan ditunjuk sebagai perwakilan investor asing dalam Komite HSC BEI ini optimistis, persoalan pasar modal Indonesia masih dapat dibenahi.

Saat ini, OJK terus melakukan langkah tegas. Seperti yang terjadi belakangan ini, OJK telah membongkar kasus  initial public offering/IPO PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

Sejumlah pihak  dikenai sanksi administratif. Pelanggaran dalam kasus BREN dan CUAN mengacu pada Pasal 107 Undang-Undang Pasar Modal (UUPM) sebagaimana diubah dengan Pasal 22 angka 48 Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UUPPSK).

Pengungkapan sanksi tersebut menjadi bagian dari langkah OJK menindak pelanggaran di pasar modal. OJK menyatakan,  penegakan hukum dilakukan berdasarkan hasil pengawasan dan pemeriksaan terhadap pelaku pasar. (YAR)