Neraca Perdagangan Surplus USD10,61 Miliar

Neraca Perdagangan Surplus USD10,61 Miliar

Menteri Keuangan Suahasil Nazara (kedua kiri) didampingi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti (kedua kanan), Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Friderica Widyasari Dewi (kiri) dan Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Anggito Abimanyu (kanan). FOTO:Ist

Jakarta, InvestorDailyOnline.com (INDOLINE) - Ketahanan eksternal Indonesia perlu terus diperkuat guna memitigasi dampak rambatan tingginya ketidakpastian ekonomi dan pasar keuangan global. 

Laman Bank Indonesia melaporkan, neraca perdagangan pada Januari-September 2026 mencatat surplus sebesar USD10,61 miliar, dengan perkembangan pada September 2026 mencatat surplus USD3,36 miliar. 

Aliran investasi portofolio asing pada triwulan III 2026 mencatat net outflows sebesar USD0,08 miliar, terutama disebabkan outflows pada saham. Pada awal triwulan IV 2026 (hingga 23 Oktober 2026), arus modal asing membaik dengan mencatat net inflows sebesar USD0,04 miliar, terutama didukung investasi pada Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI). 

Prodia

Dengan perkembangan tersebut, aliran investasi portofolio asing tercatat net inflows sebesar USD13,23 miliar sejak Januari hingga 23 Oktober 2026. Nilai tukar Rupiah sempat menguat hingga pertengahan September 2026, namun pada 2 November 2026 melemah -0,11% menjadi Rp18.145 per dolar AS dibandingkan dengan level pada akhir Oktober 2026. 

Lanjut disampaikan, pelemahan ini dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah, berlanjutnya pengetatan kebijakan moneter AS, serta sentimen investor global terhadap aset negara berkembang. 

Sementara itu, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir September 2026 tetap kuat sebesar USD146,3 miliar, setara dengan pembiayaan 5,3 bulan impor atau 5,2 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, serta jauh di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor.

Inflasi Tetap Terjaga 

Inflasi IHK pada Oktober 2026 tercatat 3,23% yoy, lebih rendah dibandingkan dengan realisasi bulan sebelumnya sebesar 3,28% yoy. Penurunan ini didorong oleh kelompok inflasi inti dan inflasi kelompok administered prices (AP) yang masing-masing turun menjadi 2,65% yoy dan 3,24% yoy. 

Sementara itu, inflasi kelompok volatile food (VF) naik menjadi 5,81% yoy dipengaruhi oleh penurunan produksi di beberapa daerah sentra. Ke depan, inflasi tahun 2026 dan 2027 diprakirakan tetap berada dalam kisaran sasaran 2,5±1% ditopang oleh konsistensi kebijakan moneter dan kebijakan Pemerintah dalam mengendalikan harga. Selain itu, sinergi Pemerintah dan BI dalam Tim Pengendalian Inflasi Pusat/Daerah (TPIP/TPID) dengan memperkuat implementasi Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera (GPIPS), turut menjaga inflasi tetap terkendali dalam sasarannya.

Pasar SBN cukup resilien di tengah volatilitas pasar keuangan global. Pada triwulan III 2026 kepercayaan investor global terhadap SBN domestik masih relatif tinggi, di mana investor Non Residen mencatatkan pembelian bersih sebesar Rp28,79 triliun sehingga kepemilikan Non Residen naik 3,28% dibandingkan posisi di akhir tahun 2025. 

Sementara itu, pada periode yang sama, spread SUN seri benchmark 10 tahun terhadap UST 10 tahun berada di level 183 bps atau turun tipis dibandingkan dengan akhir tahun 2025 sebesar 184 bps. Kinerja yang cukup positif ini berhasil dicatatkan di tengah environment suku bunga global yang sedang tinggi (higher for longer).

Perkembangan realisasi APBN hingga triwulan III 2026 mendorong pertumbuhan ekonomi dan pencapaian agenda pembangunan nasional. APBN menjalankan peran strategis melalui kinerja Pendapatan Negara yang positif, Belanja Negara yang optimal, serta Pembiayaan yang terukur.

Hingga akhir triwulan III 2026, realisasi Pendapatan Negara dan Hibah mencapai Rp2.341,5 triliun atau tumbuh kuat sebesar 25,5% yoy. Di sisi Penerimaan Perpajakan, realisasinya tumbuh tinggi sebesar 21,8% yoy sehingga mencapai Rp1.847,7 triliun. Realisasi tersebut dipengaruhi oleh aktivitas ekonomi dan penerapan Coretax yang makin membaik.