Kinerja Positif, PTSP Bidik Pertumbuhan Pendapatan 5%
PTSP bidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih. FOTO: Dok. PTSP
Jakarta, InvestorDailyOnline (INDOLINE) - Setelah berhasil menorehkan kinerja positif di kuartal tiga 2026, PT Pioneerindo Gourmet International Tbk (PTSP) membidik pertumbuhan pendapatan hingga 5%. Selain itu, PTSP juga membidik laba bersih hingga 15% hingga akhir 2026.
"Realisasi hingga September 2026 ini masih sesuai rencana kerja yang telah kami paparkan pada awal tahun," kata Direktur PTSP, Teh Kian Kun di Jakarta.
Disampaikan, hingga September 2026, pendapatan usaha bersih perseroan tumbuh 4,2% secara tahunan menjadi Rp556,3 miliar dibandingkan periode sama tahun sebelumnya senilai Rp533 miliar. Sementara, laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada entitas induk tumbuh 12% secara tahunan dari Rp13,82 miliar menjadi Rp15,48 miliar.
Dari sisi neraca, total aset perseroan meningkat Rp25,9 miliar atau 7,3%. Ekuitas juga naik Rp17,4 miliar atau 9,5%. Sebaliknya, total liabilitas turun sekitar Rp8,5 miliar atau 5%. Perseroan menargetkan pertumbuhan penjualan sebesar 5% sepanjang 2026. Dengan realisasi pertumbuhan 4,2% hingga kuartal III/2026, manajemen optimistis target tersebut dapat tercapai hingga akhir tahun.
Sementara dari sisi laba bersih, perseroan membidik pertumbuhan sebesar 10%–15% pada 2026. Untuk mendukung pertumbuhan bisnis, PTSP menargetkan pembukaan 20 gerai baru sepanjang tahun ini. Hingga September 2026, perseroan telah merealisasikan pembukaan 17 gerai dengan belanja modal (capital expenditure/capex) sekitar Rp7 miliar–Rp8 miliar.
Teh Kian mengatakan, sejumlah gerai lainnya masih dalam proses pembangunan sehingga perseroan yakin dapat memenuhi target ekspansi tahun ini. Adapun, pembiayaan ekspansi dan belanja modal sepanjang tahun ini bersumber dari kas internal. Perseroan juga mengoptimalkan aset yang telah dimiliki untuk meningkatkan produktivitas operasional.
Hingga akhir tahun ini, Teh menegaskan, perseroan belum memiliki rencana aksi korporasi tambahan di luar rencana kerja yang telah ditetapkan. Wakil Direktur Utama PTSP, Edi Triyento menjelaskan, pertumbuhan penjualan ditopang oleh penambahan gerai serta peluncuran sejumlah produk baru. Strategi inovasi produk juga menjadi salah satu upaya perseroan untuk mempertahankan pelanggan lama sekaligus menjangkau konsumen baru.
PTSP mengandalkan strategi limited time offer (LTO) dengan memperkenalkan menu baru secara berkala dalam periode tiga hingga empat bulan. Salah satu produk yang baru diluncurkan adalah ayam goreng rasa mala yang mendapat respons penjualan cukup baik.
Selain makanan, perseroan juga mengembangkan produk minuman dengan harga lebih terjangkau agar sesuai dengan daya beli masyarakat. Teh Kian menambahkan, perseroan belum melakukan penyesuaian harga produk dan masih memantau perkembangan pasar. Strategi penetapan harga produk baru juga mempertimbangkan kemampuan daya beli konsumen serta target margin perusahaan.
Di tengah persaingan industri restoran yang semakin ketat, PTSP juga memperkuat pengendalian biaya operasional. Langkah tersebut dilakukan melalui pemantauan biaya antargerai, negosiasi biaya sewa dengan vendor, serta efisiensi penggunaan air, listrik, dan gas. Saat ini, merek CFC masih menjadi kontributor utama pendapatan PTSP dengan porsi sekitar 97%. Sementara itu, sekitar 3% sisanya berasal dari merek Sapo Oriental, Cal Donat, dan Sugakiya.
Untuk 2027, emiten pengelola jaringan California Fried Chicken atau CFC ini memperkirakan persaingan industri masih akan berlangsung ketat. Karena itu, inovasi produk dan pengendalian biaya tetap menjadi bagian penting strategi bisnis perseroan. (AHM)