SSIA mengembangkan kawasan industri Suryacipta City of Industry. FOTO: ant
Jakarta, InvestorDailyOnline.com (INDOLINE) - Di kuartal tiga 2026, PT Surya Semesta Internusa Tbk. (SSIA) membukukan kinerja keuangan positif dengan pendapatan tumbuh 44,7% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp4,81 triliun, ditopang lonjakan bisnis properti dan pemulihan segmen perhotelan. Informasi tersebut disampaikan perseroan dalam laporan keuangan yang dipublikasi di Jakarta.
Per September 2026, pendapatan SSIA meningkat dari Rp3,32 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya. Segmen properti menjadi motor pertumbuhan dengan pendapatan Rp1,48 triliun, melonjak 172,2% YoY dari Rp545 miliar.
Pertumbuhan tersebut terutama didukung oleh bisnis kawasan industri, seiring meningkatnya kontribusi penjualan lahan industri. SSIA mengembangkan kawasan industri Suryacipta City of Industry di Karawang dan Subang Smartpolitan di Jawa Barat.
Selain properti, segmen perhotelan juga mencatatkan pemulihan signifikan. Pendapatan segmen ini mencapai Rp940,9 miliar, meningkat 161,2% YoY dari Rp360,2 miliar. Di sisi lain, segmen konstruksi masih menghadapi tekanan. Pendapatannya tercatat sebesar Rp2,51 triliun, turun 5,4% YoY dibandingkan Rp2,65 triliun pada periode yang sama tahun sebelumnya.
Perlambatan tersebut terutama disebabkan oleh penurunan perolehan kontrak baru. Sejalan dengan pertumbuhan pendapatan, laba kotor SSIA melonjak 113,9% YoY menjadi Rp1,58 triliun dari Rp739,3 miliar. Kontribusi terbesar berasal dari segmen properti yang mencatatkan laba kotor Rp699,6 miliar, meningkat 168,4% YoY. Sementara itu, laba kotor perhotelan melesat 216,4% YoY menjadi Rp595,2 miliar.
Dari sisi profitabilitas, EBITDA perseroan mencapai Rp951,5 miliar dengan margin 19,8%. Capaian tersebut meningkat signifikan dibandingkan EBITDA Rp256,7 miliar dengan margin 7,7% pada sembilan bulan pertama 2025. Peningkatan profitabilitas perhotelan menjadi salah satu pendorong. Segmen ini berhasil membukukan margin EBITDA 21,4%, berbalik dari posisi negatif pada tahun sebelumnya.
Kinerja tersebut terutama ditopang operasional hotel di Bali yang mencatatkan rata-rata tarif kamar (Average Room Rate/ARR) dan tingkat okupansi tinggi pada kuartal III/2026. Secara bottom line, SSIA membukukan laba bersih Rp344,4 miliar sepanjang Januari–September 2026.
Segmen properti menjadi penopang utama dengan kontribusi laba bersih Rp525,5 miliar, meningkat 330,7% YoY. Adapun segmen konstruksi menyumbangkan laba bersih Rp133,4 miliar, turun 14,9% YoY.
Sementara itu, segmen perhotelan masih mencatatkan rugi bersih Rp34,9 miliar. Meski demikian, kerugian tersebut menyusut 74,5% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Dari sisi neraca, posisi kas SSIA pada akhir September 2026 tercatat Rp928,9 miliar, turun 15% dibandingkan Rp1,09 triliun pada semester I/2026. Penurunan kas terutama dipengaruhi kebutuhan pendanaan untuk akuisisi lahan dan biaya pengembangan kawasan Subang Smartpolitan.
Adapun utang berbunga perseroan tercatat Rp2,24 triliun, turun 1,2% dibandingkan Rp2,27 triliun pada semester I/2026. Perseroan mempertahankan rasio utang terhadap ekuitas (gearing ratio) sebesar 26%. (AHM)